Minggu, 08 Agustus 2010

CERPEN : Orang Bodoh Di Negeri Politik

Aku berdiri memandang ke arah jalan raya yang terletak sekitar 30 meter di depanku. Aku dapat melihat laju mobil yang lebih lambat. Walaupun tidak terlalu jelas aku dapat mendengar teriakan-teriakan demostran di depan kampus.
“Ayo kita pulang!” Aku baru saja melangkah satu langkah ketika Nita berteriak dari kantin,” Jangan pulang dulu! Percuma karena semua mahasiswa dicegat di depan untuk ikut demo!” Seketika langkahku terhenti. “Iyakah?” Terlihatlah wajah asliku. 



Dengan sedikit kesal aku mundur kembali sejajar dengan yang lain. Melihat wajah teman-temanku yang tegang aku tergelitik untuk mengerjai mereka. “Oh jadi tadi mereka berteriak meminta partisipasi, kirain mereka tadi sedang menyanyi.” Spontan saja temanku mendorong kepalaku. “Dasar!” Yang lain malah tertawa.
Aku semakin bingun dengan keadaan ini. Mereka menertawakan kebodohanku atau karena merasa lucu dengan kegiatan itu. Dengan latar belakangku yang berasal dari desa yang sangat jarang terjadi demontrasi seperti itu, membuat aku selalu tergelitik melihat tingkah mereka yang menurutku kadang aneh. Namun aku tidak berani mengungkapkannya karena aku tahu apa jawaban mereka, “Karena kamu orang bodoh!”Aku begitu terpanah memandang mobil-mobil di depanku berjejer dan bergerak dengan irama teratur. Mobil-mobil yang biasanya membuatku deg-degan malah menjadi pemandangan yang sangat indah bagiku. Di tambah ekspresi para supir dan penumpang yang menyeka keringatanya sambil berkipas dengan seadanya. Jalan raya yang biasanya menjadi arena balap kini berubah menjadi pameran lakon antagonis. Umpatan dan cacian menjadi tontonan yang begitu indah. Inilah drama yang paling aku favoritkan. Menurut aku ini pantas untuk mendapatakan anugerah film terbaik. Durasinya ±2 jam. Pelakonnya pun begitu mengahayati perannya. Efek suaranya juga sangat pas. “Hidup reformasi… Hidup reformasi…!” itulah soundtrack filmanya. Sayang tidak buat RBT padahal aku yakin bisa mendapat double platinum.
“Kita berdiri di sini untuk membuktikan bahwa kita, mahasisiwa menginginkan perubahan, reformasi bagi semua penegak hukum di negara kita dan menuntut pemerintah segera mnyelesaikan kasus Century…” jeritan yang bersumber dari hati para demonstran yang merelakan jiwanya dan raganya terbakar panasnya matahari. Sedih sekali rasanya aku melihat drama ini. Dalam sekejap saja keindahan itu berubah menjadi duka yang sangat dalam. Ketika membayangkan tugasku di kos masih menumpuk. Aku belum punya persiapan utuk ujian minggu depan. Aku ingin pulang, tapi aku takut menyebrang jalan yang begitu padat mobil. Maklumlah aku belum cukup satu tahun kota ini dan aku berasal dari pedalaman. Di sana malah kitalah yang selalu berharap mendengar deru mobil yang menerbangkan debu-debu aspal imitasi yang belum cukup satu tahun kembali menjadi rumah bagi air hujan dan menjadi alat olah raga bagi yang melintasinya. Sebagai masyarakat umum yang juga lumayan penasaran dengan trend masa kini, aku jadi suka ikutan nonton berita. Walaupuan awalnya aku tidak menyukai politik. Menurutku politik hanyalah bahasa tingkat tinggi yang membuatku mengantuk tanpa tahu apa maknanya. Namun itu dulu, sekerang aku lebih penasaran menunggu perkembangan kasus makelar hukum daripada menunggu Farel kembali mengingat kisah cintanya yang begitu romantis dengan Fitri. Atau menunggu Misca membuat kejahatan baru. Tak bisa aku pungkiri aku juga begitu kecewa dengan drama ini. Aku juga merasakan kekecewaan yang sama seperti teman-temanku yang berdiri menyuarakkan apa yang dilihat dan dirasakannnya tidak adil. “Hari ini sampai d isini dahulu kuliah kita, aku tidak bisa konsentarasi memberikan kuliah disaat seperti ini…” Aku bisa melihat perubahan ekspresi dari dosenku mulai berubah sejak serine dan teriakan dari lantai dasar. Walaupun ia masih bertahan untuk membiarkan kami menyelesaikan kuis. Setelah kami diberi waktu sepuluh menit untuk menyelsaikan kuis, ia hanya memberikan sedikit tambahan tentang tata cara dan persiapan mid minggu depannya. Aku yang sedikit kecewa akhirnya berubah pikiran saat melihat sebagian teman-temanku melompat kegirangan dan segera berlari menuju arah sura yang meminta kami untuk bergabung. Aku dengan beberapa temanku malah sebaliknya berjalan dengan malas-malasan. Maklumlah wanita. Walaupun ada juga keinginan untuk ikut serta namun rasa takut mengalahkan rasa itu. Ada rasa tidak pantas. Apalagi melihat matahari yang begitu terik untuk berjalan pulang ke kos saja rasanya sudah berat apalagi harus berdiri di bawah terik matahari. Begitu Agungnya Tuhan mengatur alam semesta ini. Ditengah banyaknya tantangn hidup dan probelm, Ia juga menciptakan sejuta kemudahan bagi umat manusia. Tiba-tiba ku teringat kembali dengan promosi pemutih di sebuah mal yang baru kemarin aku kunjungi. Mungkin sebenarnya Tuhan telah mengisyaratkan kalau hari ini aku bisa turut menjadi pemeran dalam drama ini, namun aku malah tidak percaya dengan mulut manis para salasnya hingga pulang dengan senyum bahagia tanpa membawa produk yang terlanjur ia oleskan di tanganku. “Untuk Mbak, karena masih kuliah dan butuh uang, saya memebrikan harga khusus. Hanya dengan Rp 38.000,00. Mbak bisa langsung membawa pulang bedak yang bersal dari verbal alami. Bedak ini bukan obat tapi ini adalah verbal…” Jelasnya. Aku bisa melihat pengaruh trend politik begitu nyata pada semua aspek kehidupan. Aku yang meras asing yang masih begitu gagap dengan bahasa-bahasa politik itu hingga memandang bahasa indah itu hanya untuk menutupi sesuatu yang bagi saya buruk. Maka saya tidak pecaya padanya. “Maaf Mbak, saya buru-buru nanti kapan-kapan saya ke sini lagi.” Dengan meminjam sedikit ekspresi politik aku mencoba meyakinkannya. Dengan wajah sedikit jengkel ia beralih pada pegunjung lain. Aku bejalan menuruni tangga dengan senyum hampa. Karena aku masih terus saja memikirkan kejadian yang baru saja aku alami. “Sebenarnnya semua orang telah pintar atau akulah yang bodoh memberikan ekspresi hingga Mbak tadi bisa membaca pikiranku yang hanya ingin menyenangkan hatinya saja.” Aku baru tersadar saat aku hampir jatuh karena tidak menyadari kalau masih ada satu anak tangga di depanku. Malunya aku saat sopir taksi di depanku tertawa ke arahku. Dengan perasaan sangat malu aku berlari masuk ke pete-pete (Angkutan umum).

0 komentar:

Posting Komentar

 

Template Design By:
SkinCorner